lampungngapasih.com, Lampung Selatan – Ribuan umat Hindu memadati lokasi pelaksanaan upacara Ngaben Massal yang digelar di Desa Sumur, Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu siang. Tradisi yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali ini menjadi salah satu prosesi keagamaan penting bagi masyarakat Hindu Bali di wilayah tersebut.
Sebanyak 23 jenazah yang terdiri atas 14 orang dewasa dan sembilan anak-anak diantarkan dalam satu rangkaian upacara suci. Bagi keluarga, prosesi tersebut bukan sekadar perpisahan dengan anggota keluarga yang telah meninggal dunia, melainkan bentuk penghormatan dan kasih sayang terakhir sebelum mengantarkan mereka menuju alam keabadian sesuai ajaran agama Hindu.
Dalam ajaran Hindu, Ngaben merupakan ritual penyucian roh. Api dipercaya sebagai sarana penyucian unsur jasmani agar jiwa dapat kembali menyatu dengan Sang Pencipta serta melanjutkan perjalanan menuju kelahiran kembali atau reinkarnasi.
Sebelum prosesi pembakaran jenazah, berbagai tahapan upacara dilaksanakan, mulai dari persiapan, pembersihan, penyucian, hingga ritual puncak. Seluruh rangkaian prosesi berlangsung dengan khidmat, diiringi doa-doa suci dan alunan gamelan yang menambah suasana sakral.
Juru Mangku, I Made Anom Wijaya, menjelaskan bahwa setiap tahapan dalam upacara memiliki makna spiritual sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus penyucian roh sesuai tuntunan agama Hindu.
Sementara itu, Kepala Desa Sumur, I Nyoman Prima Wijaya, mengatakan Ngaben Massal tidak hanya menjadi warisan budaya dan tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan serta semangat gotong royong masyarakat.
Menurutnya, pelaksanaan Ngaben Massal juga mencerminkan nilai toleransi yang terus tumbuh di tengah keberagaman masyarakat di Lampung Selatan.
Tradisi Ngaben Massal di Desa Sumur dijadwalkan kembali digelar lima tahun mendatang. Bagi masyarakat setempat, pelaksanaan upacara ini tidak hanya menjadi bentuk pelestarian ajaran leluhur, tetapi juga upaya menjaga kebersamaan, gotong royong, dan kerukunan antarwarga dari generasi ke generasi.


Komentar