lampungngapasih.com, Mesuji – Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Rawajitu Selatan, Kabupaten Mesuji, mengeluhkan dugaan penolakan pembelian gabah oleh mitra Bulog Cabang Tulang Bawang Barat.
Dugaan penolakan tersebut disampaikan melalui pabrik penggilingan padi yang menjadi mitra Bulog di wilayah tersebut.
Pemilik pabrik penggilingan gabah di Desa Gunung Tiga Baru, Kecamatan Rawajitu Utara, Mesuji, Edi Supendri, mengatakan penundaan pembongkaran gabah dilakukan atas permintaan dari pihak Bulog Cabang Tulang Bawang Barat.
Menurutnya, pihak pabrik hanya menjalankan arahan terkait proses penerimaan gabah.
Sementara itu, seorang sopir truk pengangkut gabah asal Mesuji bernama Solekan mengaku harus menunggu hingga sekitar 15 jam sejak malam hingga pagi hari karena muatan gabah yang dibawanya belum diperbolehkan dibongkar.
“Harapan saya ya cepet di bongkar biar bisa pulang,” ujar Solekan.
Namun, saat sejumlah awak media mendatangi lokasi pabrik untuk melakukan konfirmasi, pihak penggilingan padi disebut langsung melakukan pembongkaran muatan dan menerima gabah tersebut.
Kondisi ini membuat sebagian petani mengaku enggan menjual gabah melalui skema kemitraan Bulog karena dinilai memiliki proses yang panjang dan kurang fleksibel.
Petani disebut lebih memilih menjual gabah kepada tengkulak karena proses transaksi dinilai lebih cepat dan harga pembelian lebih tinggi dibandingkan harga yang ditetapkan Bulog.
Jika Bulog membeli gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, para tengkulak disebut mampu membeli hingga Rp7.200 per kilogram.
Selisih harga tersebut menjadi salah satu alasan petani lebih memilih menjual hasil panen kepada tengkulak dibandingkan melalui jalur penyerapan Bulog.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Bulog Cabang Tulang Bawang Barat terkait dugaan penundaan maupun penolakan pembelian gabah dari petani di wilayah Mesuji tersebut.


Komentar